| Tawaran Pekerjaan atau Mengurus Anak |
|
|
| Monday, 01 February 2010 | |
|
Assalamu’alaikum wr. wb. Ummi, saya ibu dengan satu anak, meskipun saya dan suami sama-sama bekerja, namun kondisi hidup tetap pas-pasan. Saat ini saya menghadapi dilema karena mendapatkan tawaran kerja dengan posisi yang lebih tinggi dan gaji lebih besar di Jakarta, sehingga harus meninggalkan suami dan anak. Wa’alaikumussalam wr. wb. Kedua, berdiskusilah dengan suami tentang manfaat dan mudharat kalau dalam mengambil keputusan itu, sehingga Ibu dan suami siap dengan konsekuensi apapun. Coba Ibu bersama suami mencari alternatif solusi. Misalnya mencari pekerjaan yang lepas dari dilema, bisa dikerjakan di rumah, namun berpenghasilan lumayan. Saya yakin, peluang usaha yang tidak menimbulkan madharat jauh lebih banyak. Atau Ibu memberikan motivasi agar suami mencari peluang baru untuk menambah penghasilan. Ibu sudah sangat bagus mempertimbangkan perkembangan anak-anak jika ditinggalkan. Memang betul bahwa anak-anak sangat membutuhkan kehadiran seorang ibu lebih banyak dibandingkan ayahnya. Mungkin anak akan terpenuhi secara materi, namun minim kasih sayang dari seorang Ibu. Apa jadinya jika nanti Ibu merasa sudah sangat cukup memenuhi kebutuhan anak, tetapi ia tidak mencintai, dan merasa asing dengan ibunya sendiri. Banyak istri atau Ibu yang mengejar mimpinya, tapi meninggalkan keluarganya. Bisa jadi karirnya bagus, namun keluarganya tidak terjaga. Dan sebenarnya kewajiban seorang istri hanya membantu keluarganya dalam hal nafkah. Kewajiban nafkah terletak pada suami, jadi sebaiknya suami Ibu didukung untuk berpenghasilan lebih baik. Ibu tidak menyalahi kodrat jika dalam mengejar mimpi itu tidak meninggalkan kewajiban sebagai istri dan ibu.Wallahu’alam. |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




