| Felix Anwar Siauw: Islam Menjawab Keraguannya |
|
|
| Monday, 01 February 2010 | |
|
Usia Felix baru menginjak 12 tahun, saat tiga pertanyaan besar terbersit di benak penganut Kristen Katolik ini; Darimana asal kehidupan ini? Untuk apa adanya kehidupan ini? Dan, akan seperti apa akhir kehidupan ini? EPISODE pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu pun kemudian dimulai. Felix buka lembar demi lembar alkitab Injil. Setelah berusaha mendalami, alangkah terkejutnya dia bahwa ternyata 14 dari 27 surat yang termaktub di Injil Perjanjian Baru ditulis oleh manusia. Bahkan konsep trinitas, yang merupakan inti dari ajaran kristen pun ternyata merupakan hasil kesepakatan kongres di kota Nicea pada tahun 325 M. ”Saya mengambil kesimpulan bahwa semua agama tidak ada yang benar, karena sudah diselewengkan oleh penganutnya seiring dengan waktu. Saya juga berpandangan bahwa Tuhan laksana matahari, dimana para nabi dengan agamanya masing-masing adalah bulan yang memantulkan cahaya matahari, dan pemantulan itu tidak ada yang sempurna, sehingga agama pun tidak ada yang sempurna,” katanya saat itu. Tanpa sadar dirinya pun menjadi manusia yang sinkretis dan pluralis. Hingga pertengahan tahun 2002, saat dirinya menginjak bangku kuliah Semester ketiga di Institut Pertanian Bogor (IPB), proses pencarian jawaban atas pertanyaan itu masih terus dilakukan. Sampai suatu ketika, tatkala dirinya memutuskan pindah tempat kos. Di tempat kos yang baru ini, ia tinggal bersama-sama dengan mahasiswa yang beragama Islam. Islam Menjawab Pertanyaan Saya Apalagi pandangannya tentang Islam sudah terlanjur buruk; terbelakang, ikut-ikutan, munafik, suka dengan kekerasan dan rumit. Namun, rekannya itu tidak putus asa untuk membujuk Felix agar mau bertemu dengan guru ngaji. Ketika ia bertemu langsung dengan sang ustadz, dirinya menemukan pandangan mengenai Islam yang sangat jauh berbeda dengan apa yang ia pahami sebelumnya. ‘’Ternyata yang saya temukan dalam Islam berbeda. Saya menemukan suatu konsep yang sangat luar biasa. Di mana Islam menyediakan konsep akhirat dan juga dunia. Artinya, Islam ini bisa menjawab seluruh pertanyaan saya,’’ ujarnya. Dari sini kemudian dirinya tertarik untuk mempelajari Alquran lebih dalam. Salah satu ayat di dalam Alquran yang membuatnya berdecak kagum adalah surat Albaqarah ayat 2, yang menyatakan, ‘’Kitab ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang bertakwa.’’ Kendati demikian, pada saat itu Felix masih mengira bahwa yang menciptakan kitab suci umat Islam ini pun adalah seorang manusia biasa, seperti halnya kitab suci agama yang lain. Namun, ketika sampai padanya penjelasan bahwa Alquran itu bukan buatan manusia, ia menganggap hal itu sebagai lelucon. Dia pun meminta bukti bahwa penjelasan itu benar adanya. Keraguan tersebut kemudian terjawab melalui surat Albaqarah ayat 23 yang menjelaskan, ‘’Dan bila kalian tetap dalam keraguan terhadap apa yang Kami turunkan ini, datangkanlah kepada Kami satu surat yang semacam dengannya.’’ Bagi dirinya surat Albaqarah ayat 23 ini merupakan sebuah segel dan tantangan terbuka buat manusia. Dan terbukti, manusia tak ada yang bisa membuat kitab seperti itu. Dari diskusi panjang tersebut, Felix merasa yakin bahwa Alquran merupakan kitab yang diturunkan dari Tuhan pencipta semesta alam, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk bersyahadat di hadapan sang ustad, karena Islam telah menghapus keraguannya selama ini. Felix pun memiliki nama Islam “ Muhammad Al Fatih” di usianya yang ke 18. Mengetahui anaknya masuk Islam, sudah pasti kedua orang tua Felix shock dan marah. Rasa kecewa tersebut ditunjukkan oleh kedua orang tuanya dengan kata-kata pedas. ‘’Kamu ini kemasukan setan atau jin. Kamu itu seperti mutiara yang menceburkan diri ke dalam lumpur.’’ Lalu saya katakan, ‘’Lumpurnya yang mana dan mutiaranya yang mana?’’ Dengan berbagai upaya Felix pun mencoba menjelaskan keyakinan dia pada orang tuanya. Kini kedua orang tuanya sudah bisa menerima pilihan hidupnya itu. Meski dalam beberapa hal, baik ayah maupun ibunya, masih belum bisa menerima perbedaan tersebut. Tantangan Terbesar dari Umat Islam Ada sebuah kisah menarik ketika dirinya baru menjadi seorang muslim. Saat itu dirinya menyeru kepada semua sivitas kampus supaya kembali kepada ajaran Islam yang murni berdasarkan Alquran dan Sunnah. Tiba-tiba ada seorang perempuan berjilbab berseloroh, “Mas, saya dari tadi kayak denger ceramah Isra’ Mi’raj, kalau mau jadi dai ikutan acara di TV aja mas, jangan di sini, ini kampus bukan masjid!” “Subhanallah, waktu itu saya sedih berat, karena sekarang banyak orang-orang muslim berubah jadi orang yang sinis terhadap agamanya sendiri. Tak sedikit kaum muslim yang merasakan kehadiran Allah hanya di Masjid saja. Tapi, itulah perjuangan,” tuturnya. Kini, harapan terbesarnya adalah menyaksikan kebangkitan Islam dan umat muslim bersatu di bawah satu kepemimpinan yang menerapkan seluruh hukum dan aturan Allah dalam Alquran dan as-Sunnah secara menyeluruh dan total. Bukan setengah-setengah seperti saat ini. TABLOID ALHIKMAH/ERNI ARIE SUSANTI |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




Usia Felix baru menginjak 12 tahun, saat tiga pertanyaan besar terbersit di benak penganut Kristen Katolik ini; Darimana asal kehidupan ini? Untuk apa adanya kehidupan ini? Dan, akan seperti apa akhir kehidupan ini?
