Advertisement
 
 
Jembatan Ulama dan Umara Cetak E-mail
Monday, 01 February 2010

KH. Engkin Zaenal Muttaqien. Seorang guru sekaligus cendikiawan muslim yang telah mewariskan banyak hal untuk generasi penerusnya. Sebuah institusi pendidikan Islam di Jawa Barat, Universitas Islam Bandung (Unisba), dan fasilitas kesehatan Islami, Rumah Sakit Al-Islam Bandung, di antaranya.

EZ Muttaqien, begitu ulama besar ini akrab disapa. Beberapa orang menyebutnya KHEZ saja, singkatan dari Kiai Haji Engkin Zaenal. Lahir di desa Linggawangi-Tasikmalaya, 04 Juli 1925, Ia adalah anak ketiga dari sembilan bersaudara, putra seorang guru ngaji asal Tasikmalaya, KH. Abdullah Siradj dan Eyang Iti. Sejak kecil EZ ini sudah menunjukan tanda-tanda keulamaannya. Pada masa Tsanawiyah, ia sudah membantu ayahnya mengajar di kelas yang lebih rendah dari dirinya.

Ketertarikan dia pada ilmu agama, membuat EZ Muttaqien memilih melanjutkan pendidikannya di dunia pesantren,  di Cipasung-Tasikmalaya dan salah satu Pesantren di Sukabumi. Di Sukabumi, ia menjadi salah seorang anak didik ulama besar, KH. Ahmad Sanusi. Bertolak dari pesantren itulah, ia kemudian meneruskan jejak keulamaan gurunya.

Darah pendidikannya ini ternyata menjadi ciri khas yang menonjol dari Engkin. Mulai tahun 1944-1952, ia mengajar di sekolah rakyat di Bandung. Kembali ke Tasikmalaya, ia pun tidak melepaskan profesinya untuk menjadi guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Tasikmalaya dan Bandung. Beberapa tahun kemudian ia mendedikasikan dirinya menjadi dosen agama Islam di sejumlah Perguruan Tinggi di Jawa Barat, antara lain;  Universitas Islam Bandung (UNISBA), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung (sekarang UPI), dan beberapa lainnya.

Di akhir dekade 1940-an, tepatnya tanggal 29 Januari 1948, pada usianya yang baru menginjak 23 tahun, ia menikahi seorang perempuan asal Pagarsih, Bandung, Tias Syamsiah yang saat itu masih juga belia, berusia 20 tahun. Pernikahan yang dilakukan di masjid Agung Bandung itu dilakukan dengan sangat sederhana, dan sangat Islami, dengan menerapkan aturan-aturan hijab dalam pernikahan.

Buah cintanya dengan Tias Syamsiah, E.Z. Muttaqien dikaruniai 11 orang anak. Anak tertua meninggal dunia, dan sepuluh lainnya antara lain; Fuad Hilmi Setiawan, Nashir Shidiq, Aisyah Adibah, Achmad Thoyib, Iva Lativah, Susi Fauziah, Adang M Tsaury, Dudi Abdullah Muttaqien, Madya Muchlis, dan Zaki Mubarak.

Kepada Alhikmah, Prof. Maman Abdurrahman, murid sekaligus teman EZ Muttaqien semasa merintis pendirian UNISBA mengatakan, bahwa salah satu putranya yang bernama Dudi Abdullah Muttaqien, meneruskan perjuangannya menjadi seorang mubaligh dan penceramah di Jawa Barat. Menurutnya, Dudi ini pewaris EZ dalam suara dan gaya dakwahnya di muka umum. Hal ini  juga dibenarkan oleh Adang M. Tsaury, kakak kandung Dudi.

Meski seluruh kehidupannya lekat dengan dunia pendidikan, ia pun ternyata memiliki minat dan kompetensi di bidang politik. Buktinya, EZ Muttaqien sempat menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia mulai tahun 1952-1954, dari partai Masyumi.  Ia pun aktif di Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII), dan sempat diamanahi tampuk  kepemimpinan GPII Jabar di usianya yang baru 25 tahun.

Meski berstatus anggota dewan, aktivis revolusioner sekaligus rektor ke-4 UNISBA ini menjalani hidup dengan bersahaja dan sangat sederhana. Menurut Prof. Maman, “hingga akhir hayatnya beliau tidak memiliki mobil dan rumah pribadi. Ia sangat sederhana dan tidak menggunakan fasilitas negara yang berlebihan, “ ungkapnya.
Sementara menurut putra ke-tujuhnya, Adang M. Tsaury, EZ Muttaqien yang terbiasa menjadi guru, kawan dan teman curhat ini jarang menggunakan kendaraan yang diberikan kepadanya. “Bahkan, jika perlu, bapak sering naik becak atau memilih berjalan kaki menuju ke kampus atau ke kantor,” kenangnya.

Adang menilai, ayahnya yang merupakan pendiri UNISBA dan pengagas Rumah Sakit Al Islam Bandung ini sangat perhatian terhadap keluarganya. “Semasa bapak di penjara di daerah Poncol Cimahi, di lapas Sukamiskin dan yang paling lama di Madiun dari tahun 1960-1966, bapak selalu memperhatikan kami, anak-anaknya. Ia juga banyak menulis dan menghasilkan karya-karya yang bermanfaat,” ujar Adang.

EZ Muttaqien memang beberapa kali masuk penjara karena aktif menentang konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) dan Manipol-Usdek (Manifesto Politik Republik Indonesia-UUD 1945, Sosialisme ala Indonesia Demokrasi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia) di masa pemerintahan Soekarno.

Karya-karyanya yang menggugah antara lain buku ‘Apel Kesatuan Perjuangan’ (1959), ‘Seruan tentang Persatuan Umat’ ( 1968), ‘Apel Kesatuan Perjuangan Umat’ (1959), ‘Kumpulan Khutbah’,  “Sikap Muslim” dan “Da’wah dan Pengorbanan”. Karena kapasitas keilmuannya itu, 15 Mei 1982, Insitut Ilmu Quran menganugerahi EZ Muttaqien gelar Doktor Honoris Causa.

Selama perjalanan politiknya, ia dikenal gigih mempertahankan ideologi Islam dalam pemerintahan. Perjalanan dakwahnya  dilakukan dari mimbar ke mimbar, dan dari kalam ke kalam. Di tengah masyarakat, ia merupakan sosok ulama yang jarang sekali menuai kontroversi dalam dakwahnya. Ia adalah jembatan antara ulama dan umaro. Dalam bahasa Prof. Maman, EZ Muttaqien adalah ulama yang pandai “ngigelan” objek dakwahnya, menyebarkan dakwah dengan memahami apa kemauan masyarakat.

Ajengan yang sempat menjadi ketua MUI Jabar dan ketua MUI Pusat ini adalah guru yang mengutamakan dakwah di atas segala-galanya. Bahkan di awal pendiriannya, UNISBA yang ia gagas, memberikan fasilitas cuma-cuma bagi para pengemban dakwah, baik dari daerah maupun dari luar daerah.

Dakwah terakhir dia di kota Ciamis 10 April 1985, membawanya pada sebuah kecelakaan maut di Nagreg, Kabupaten Bandung. Setelah 17 hari mendapat perawatan intensif akibat luka parah yang dialami, Sabtu, 27 April, EZ Muttaqien menghadap Sang Khalik, meninggalkan umat dan dunia dakwah yang dicintainya.

TABLOID ALHIKMAH/SITI ROKAYAH
Comments (2) >>
...
written by Neneng Khodijah, April 01, 2011

Subhanalloh, masih adakah orang seperti beliau, yg tidak mementingkan duniawi semasa hidupnya...? yang ada hanya pengabdian dan pengabdian kepada agama dan umatnya.Apa yg telah beliau perjuangkan telah dirasakan manfaatnya oleh semua orang. Semoga Alloh menempatkan beliau yg layak disisi-Nya, dan semoga keluarga besar beliau ada dalam lindungan-Nya dan di mudahkan segala urusannya aminnnn.....




...
written by Amir, January 27, 2011

Jasamu dalam memperjuangkan Islam tanpa pamrih patut untuk ditiru.
Jadi pengen baca bukunya ihh...
ngedapetinnya dimana ya ????


Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru