| Berkhidmat untuk Pengembangan Umat |
|
|
| Monday, 01 February 2010 | |
|
SAAT ALHIKMAH masuk menyusuri sebuah gang di sana, ratusan ibu-ibu yang didominasi pakaian putih dan hijau tampak terduduk rapih di sebuah masjid dan rumah, khusyuk membacakan ayat suci Alquran dan doa. Ternyata, hari itu adalah jadwal rutin pengajian Majelis Taklim Nurhasanah (MT Nurhasanah). “Seperti inilah kalau Jumat siang, ratusan ibu-ibu kumpul di masjid dan di rumah Bu Haji Misbah (pendiri cum pemilik MT Nurhasanah_red) untuk mengaji,” kata pimpinan majelis taklim, Ummi Kulsum, kepada Alhikmah. “Sejarahnya itu berawal dari pengajian kecil di keluarga Haji Misbah. Ketika mereka memiliki dana lebih dari Allah, harapannya dana tersebut dapat dikelola secara baik hingga bisa tersalurkan ke orang-orang dhuafa. Maka dibuatlah majelis taklim ini. Jadi dari majelis taklim keluarga ini berkembang menjadi majelis taklim untuk umum,” papar Ummi. Jika sebelumnya Majelis taklim yang didirikan tahun 1990-an ini hanyalah sebuah pengajian kecil di rumah keluarga H. Misbah dengan anggota 40 orang, maka kini jumlahnya mencapai 700 orang. Penambahan jamaah ini bukan tanpa sebab, karena selain ilmu dan ukhuwah yang didapat anggota ternyata banyak program kerja yang menarik minat masyarakat untuk bergabung. Meskipun dananya berasal dari donasi keluarga, namun program dan kegiatan yang dilaksanakan sedemikian serius, jauh dari kesan asal-asalan. Pernikahan dan khitanan massal, santunan untuk orang – orang jompo, misalnya, menjadi program rutin yang dilaksanakan majelis taklim ini. Bahkan pernikahan massal pernah dikenal masyarakat sekitar menjadi program khas MT Nurhasanah. Namun karena banyak peserta yang menyalahgunakan kesempatan, akhirnya program ini pun dihentikan. “ Harapan awalnya kita ingin membantu pasangan yang ingin menikah, namun karena ada yang ikut serta cuma berharap buku nikahnya saja atau agar pernikahannya ‘sah’ namun sudah hamil duluan, jadi program ini tidak dilanjutkan,” kenang Ummi. Program lainnya pun kemudian digagas. Di antaranya menyantuni anak Yatim dan Dhuafa, termasuk para lansia dari kalangan ekonomi lemah. Agar tali ukhuwah antar sesama anggota tetap terjaga, selain menyantuni kalangan masyarakat umum, setiap Ramadhan sebulan penuh sebanyak 50 anggota jompo diberikan sembako setiap harinya. Selain itu, setiap enam bulan sekali, MT Nurhasanah menggelar program ziarah dan tadabbur alam. Tujuannya, selain fisik dan ruhani para anggota tetap terjaga, variasi kegiatan semisal ini diharapkan dapat mengatasi perasaan jemu yang kerap melanda. Kini, untuk pengembangan majelis taklim sebuah pesantren yatim piatu di daerah Cimahi tepatnya di jalan Kolonel Masturi tengah dalam proses pembangunan. Pesantren yang ditujukan untuk anak usia sekolah dasar ini rencananya akan memiliki program tahfidz qur’an, sehingga dapat mencetak para hafidz dan hafidzah, kelak. TABLOID ALHIKMAH/ERNI ARIE SUSANTI |
| < Sebelumnya | Berikutnya > |
|---|




Jumat siang, tak jauh dari gerbang Januari 2009, lantunan ayat suci dan doa terdengar mengalun merdu di wilayah Cibabat, Cilember, Cimahi.
