Advertisement
 
 
Berkhidmat untuk Pengembangan Umat Cetak E-mail
Monday, 01 February 2010

ImageJumat siang, tak jauh dari gerbang Januari 2009, lantunan ayat suci dan doa terdengar mengalun merdu di wilayah Cibabat, Cilember, Cimahi.

SAAT ALHIKMAH masuk menyusuri sebuah gang di sana, ratusan ibu-ibu yang didominasi pakaian putih dan hijau tampak terduduk rapih di sebuah masjid dan rumah, khusyuk membacakan ayat suci Alquran dan doa. Ternyata, hari itu adalah jadwal rutin pengajian Majelis Taklim Nurhasanah (MT Nurhasanah).

“Seperti inilah kalau Jumat siang, ratusan ibu-ibu kumpul di masjid dan di rumah Bu Haji Misbah (pendiri cum pemilik MT Nurhasanah_red) untuk mengaji,” kata pimpinan majelis taklim, Ummi Kulsum, kepada Alhikmah.
Menurut Ummi, pendirian MT Nurhasanah bisa dibilang berbeda dengan Majelis Taklim pada umumnya. Jika kebanyakan Majelis Taklim bergantung pada donasi anggotanya, MT Nurhasanah tidak demikian. Sebuah keluarga menjadi penyandang dana tunggal komunitas pengajian ini.

“Sejarahnya itu berawal dari pengajian kecil di keluarga Haji Misbah. Ketika mereka memiliki dana lebih dari Allah, harapannya dana tersebut dapat dikelola secara baik hingga bisa tersalurkan ke orang-orang dhuafa. Maka dibuatlah majelis taklim ini. Jadi dari majelis taklim keluarga ini berkembang menjadi majelis taklim untuk umum,” papar Ummi.

Jika sebelumnya Majelis taklim yang didirikan tahun 1990-an ini hanyalah sebuah pengajian kecil di rumah keluarga H. Misbah dengan anggota 40 orang, maka kini jumlahnya mencapai 700 orang. Penambahan jamaah ini bukan tanpa sebab, karena selain ilmu dan ukhuwah yang didapat anggota ternyata banyak program kerja yang menarik minat masyarakat untuk bergabung.

Meskipun dananya berasal dari donasi keluarga, namun program dan kegiatan yang dilaksanakan sedemikian serius, jauh dari kesan asal-asalan. Pernikahan dan khitanan massal, santunan untuk orang – orang jompo, misalnya, menjadi program rutin yang dilaksanakan majelis taklim ini.

Bahkan pernikahan massal pernah dikenal masyarakat sekitar menjadi program khas MT Nurhasanah. Namun karena banyak peserta yang menyalahgunakan kesempatan, akhirnya program ini pun dihentikan. “ Harapan awalnya kita ingin membantu pasangan yang ingin menikah, namun karena ada yang ikut serta cuma berharap buku nikahnya saja atau agar pernikahannya ‘sah’ namun sudah hamil duluan, jadi program ini tidak dilanjutkan,” kenang Ummi.

Program lainnya pun kemudian digagas. Di antaranya menyantuni anak Yatim dan Dhuafa, termasuk para lansia dari kalangan ekonomi lemah.

Agar tali ukhuwah antar sesama anggota tetap terjaga, selain menyantuni kalangan masyarakat umum,  setiap Ramadhan sebulan penuh sebanyak 50 anggota jompo diberikan sembako setiap harinya.

Selain itu, setiap enam bulan sekali, MT Nurhasanah menggelar program ziarah dan tadabbur alam. Tujuannya, selain fisik dan ruhani para anggota tetap terjaga, variasi kegiatan semisal ini diharapkan dapat mengatasi perasaan jemu yang kerap melanda.  

Kini, untuk pengembangan majelis taklim sebuah pesantren yatim piatu di daerah Cimahi tepatnya di jalan Kolonel Masturi tengah dalam proses pembangunan. Pesantren yang ditujukan untuk anak usia sekolah dasar ini rencananya akan memiliki program tahfidz qur’an, sehingga dapat mencetak para hafidz dan hafidzah, kelak.
“Mohon doanya, insya Allah ini juga sebagai sarana syiar Islam Majelis Taklim Nurhasanah untuk umat,”  pungkas Ummi.

TABLOID ALHIKMAH/ERNI ARIE SUSANTI 
Comments (0) >>
Write comment
quote
bold
italicize
underline
strike
url
image
quote
quote
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley
Smiley


Write the displayed characters

busy
 
< Sebelumnya   Berikutnya >
   
 
   
 
 
 
 
 
Alhikmah Terbaru