| Modernisasi Dongeng |
| Wednesday, 01 July 2009 | |
|
Zahra, seorang remaja yang selalu berjilbab, suatu hari bercerita. “Saya kecewa ketika mengetahui kehidupan sehari-hari para artis, ternyata tidak suka berjilbab, tidak seperti yang saya lihat dalam sinetron”, keluhnya membuka obrolan di sela-sela mentoring Ahad di masjid dekat rumahnya. “Padahal”, lanjutnya, “Saya sudah merasa bangga ketika sejumlah sinetron di berbagai TV menampilkan para artis berjilbab”. Kekecewaan Zahra wajar. Sejak muncul beberapa sinetron dengan para pemerannya yang cantik dan berjilbab, ia merasa lebih yakin kalau berjilbab merupakan pilihan yang tepat. Meski di sekolahnya hanya beberapa orang saja yang berjilbab, Zahra tampak makin percaya diri. Ia juga mulai melupakan rasa kesal pada teman-temannya yang pernah sinis melihat gaya berbusananya. Ketika mulai berjilbab, memang tidak sedikit teman-temannya yang memberi komentar dengan nada yang melecehkan. Zahra kecewa karena dia mengira kalau penampilan berjilbab dalam sinetron merupakan cermin kesehariannya. Dia mengira banyak artis yang telah berubah pikiran dan memutuskan untuk berjilbab. Dugaan Zahra diperkuat oleh berbagai informasi mengenai perjalanan spiritual para artis. Beberapa kali TV mengungkap perjalanan umrah dan haji para artis, lengkap dengan penampilan berbusananya yang serba tertutup. Tidak terbayang sedikit pun kalau di luar itu semua mereka sebetulnya tetap berbusana biasa, seperti pada umumnya dunia selebriti. Tapi itulah cerdasnya media. Media bisa menampilkan realitas baru yang dibentuknya sendiri. Sebuah realitas yang ada di luar kehidupan nyata sekalipun. Dalam terminologi komunikasi massa, gambaran yang “menipu” itu biasa disebut realitas kedua (the second reality). Realitas itu dirancang seseorang untuk mewakili imajinasinya berkaitan dengan suatu kenyataan. Ada memang yang mewakili peristiwa faktual, tapi ia tetap sarat muatan imajinatif. Tidak ada pesan media yang sepenuhnya faktual, paling tidak merupakan ramuan subyektif para pengelola media. Sinetron dapat mewakili kisah yang diasumsikan menjadi bagian dari human interest. Ceritanya bisa bersumber dari kisah faktual ataupun fiktif. Cerita itu bisa menjadi sangat menarik terutama karena bantuan media audio-visual semacam televisi. Dua kekuatan menyatu mengikat perhatian audiens, sehingga daya tariknya pun dapat berlipat ganda. Wajar jika saat ini sinetron menjadi target tontonan penting masyarakat kita. Pada era sekitar 1970-an, ketika televisi masih sangat terbatas, cerita-cerita seperti itu juga pernah sangat memasyarakat. Dalam beberapa hal bahkan membuat masyarakat ketagihan. Cerita-cerita itu dikemas dalam bentuk dongeng bersambung dan disajikan lewat media radio. Beberapa dongeng menjadi konsumsi penting masyarakat dan membuat pendengar kecanduan. Acara dongeng di radio saat itu pernah menjadi target hiburan murah meriah dan dapat menarik perhatian hampir semua lapisan masyarakat, seperti anak-anak, dewasa, bahkan orangtua. Tema ceritanya sangat bervariasi. Mulai dari kisah percintaan hingga dunia persilatan. Dengan memainkan efek suara yang menjadi kelebihan media radio, dongeng sanggup menyentuh wilayah psikologis dan melibatkan kesadaran para pendengarnya, sehingga melahirkan pengaruh yang tidak sederhana. Mungkin, ketertarikan pada cerita yang disajikan dalam bentuk apapun, sejak lama telah menjadi salah satu watak kultural masyarakat kita, atau bahkan merupakan naluri manusia di manapun. Sejak zaman pewayangan, sandiwara, cerita rakyat serta bentuk-bentuk cerita lainnya, hampir selalu menarik perhatian masyarakat kita. Jika ”dijual” dengan tiket mahal sekalipun, tontonan itu selalu laris terjual. Cerita-cerita itu menjadi media hiburan rakyat sesuai dengan zamannya. Kini, setelah media komunikasi dan informasi semakin berkembang, dongeng itu mulai dirancang dalam kemasan teknologis dengan kekuatan daya tarik yang lebih besar. Jadi, dalam konteks budaya seperti itu, sinetron pada dasarnya merupakan bentuk modernisme dongeng yang disajikan secara khas dengan tujuan meningkatkan daya tarik sesuai tuntutan zaman. Sinetron kemudian teruji banyak diminati masyarakat. Sinetron kini menjadi media hiburan murah dan sederhana, dapat dinikmati tanpa harus mengeluarkan anggaran tambahan dan tidak perlu meninggalkan rumah. Dongeng kini memiliki tempat baru berbentuk tabung kecil yang disebut televisi. Intonasi bicara dan ekspresi mimik seorang pendongeng, atau efek suara yang biasa dimainkan radio, kini telah berubah cepat menjadi tayangan gambar hidup (motion picture) yang lebih menarik. Jika dongeng lebih merepresentasikan kisah-kisah masa lalu, sinetron malah lebih banyak mengungkap gambaran hidup masa kini. Tema-tema sinetron tampak sangat bervariasi. Umumnya berkisar di seputar fenomena kehidupan kelas masyarakat tertentu, tapi tetap berkaitan dengan wilayah human interest. Misalnya, soal perebutan harta, gangguan orang ketiga dalam keluarga, perselingkuhan yang melibatkan seorang istri ataupun suami, atau, seperti dalam sinetron yang beberapa waktu terakhir muncul di salah satu televisi swasta, soal poligami. Beberapa tema sinetron memang ada yang berusaha merekam gambaran peristiwa yang terjadi di masyarakat. Sinetron yang disebutkan terakhir di atas, konon, ada yang menduga sebagai rekaman sarkastik atas peristiwa perkawinan seorang tokoh religius dengan seorang wanita di bawah umur yang pernah meramaikan berita di berbagai media. Beberapa sinetron lainnya diperkirakan menggambarkan kehidupan sekelompok kecil masyarakat, seperti kehidupan dunia gemerlap yang telah menjadi kebiasaan para eksekutif muda perkotaan. Jadi, tidak tepat jika sinetron disebutkan sebagai representasi kehidupan masyarakat suatu negara pada umumnya. Sama sekali bukan. Bahkan ada yang mewakili kondisi sebaliknya. Ketika sinetron Dokter Sartika ditayangkan pada sekitar dekade 1990-an, ada yang sengaja memprotes. Sinetron itu menampilkan sosok dokter dengan pengabdian yang sangat ideal. Dia tulus mewakafkan profesinya untuk masyarakat. Tapi kenyataan itu sangat bertolak belakang dengan kenyataan umumnya dokter di Indonesia. Inilah di antara misteri sinetron khususnya di Indonesia. Seperti pedang bermata dua: bisa jadi pendidikan agar terjadi perubahan yang lebih baik, atau virus membahayakan yang hanya mengajak masyarakat berimajinasi. Comments |