| Masjid Darul Ihsan PT Telkom: Masjid Perkantoran Teladan |
| Friday, 10 July 2009 | |
|
Suara itu terdengar berulang dari beberapa speaker yang ditempatkan di sudut-sudut Masjid Darul Ihsan, Gedung Kantor Pusat (GKP) PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom), Jl. Japati, Bandung, lalu bergema ke seluruh ruangan. Tak lama setelahnya, audio murottal wahyu suci Alquran mengalun syahdu, lantas berlanjut dengan kumandang adzan Ashar. Serentak, ratusan karyawan muslim salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini berbondong-bondong menuju Masjid Darul Ihsan, yang terletak di lantai dua gedung ini, untuk menunaikan shalat berjamaah. Dalam sekejap suasana perkantoran tampak lengang. Usai shalat, para jamaah tak beranjak dari tempatnya. Bersama mereka bertadarus Alquran, dipimpin sang Imam masjid. Begitulah pemandangan sehari-hari di masjid Darul Ihsan, yang berada di dalam lingkungan kantor Pusat PT Telkom. Masjid yang dibangun tahun 2000 silam ini, diprakarsai oleh Direktur Utama PT TELKOM saat itu, Cacuk Sudaryanto. Ia berkeinginan membangun sebuah gedung pusat kegiatan karyawan TELKOM, yang semula terpencar di beberapa wilayah, semisal; Jalan Cisanggarung, Ranggagading, dan di beberapa wilayah sekitar Bandung lainnya. Keadaan seperti tersebut, pun menyulitkan para karyawan untuk melaksanakan ibadah shalat jumat secara berjamaah dengan pegawai PT TELKOM secara keseluruhan. Maka, muncul inisiatif pendirian masjid Darul Ihsan, seiring dengan pembangunan gedung perkantoran PT TELKOM Pusat. Lantai kayu yang bersih, ruangan bernuansa biru yang lumayan luas, dengan daya tampung sekitar 1500 jamaah, membuat suasana ibadah begitu nyaman. Berbeda dengan lazimnya masjid perkantoran di negeri ini, yang kerap berada di belakang, sempit, cenderung kumuh dan minus manajemen yang baik. Pantaslah jika masjid yang ditopang 9 tiang penyangga ini dinobatkan sebagai masjid perkantoran terbaik pada tahun 2005 lalu, oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI), dilihat dari beberapa kriteria penilaian, antara lain; kebersihan dan kemanfaatan bagi jamaah. Tahun 2005, Direktur Utama PT. Telkom saat itu, Kristiono yang mulanya melontarkan ide pengingatan karyawan untuk melaksanakan ibadah shalat berjamaah. Maka, setiap kali waktu shalat tiba, ia pun menyerukan secara langsung kepada para pegawainya melalui speaker, agar meninggalkan aktivitas sejenak, untuk menunaikan shalat. Pada perkembangannya, suara tersebut akhirnya direkam yang kemudian ditambahkan dengan murotal Alquran dan diperdengarkan berulang-ulang begitu memasuki waktu shalat, dan dilanjutkan dengan kumandang adzan. Ternyata cara ini sangat efektif. Begitu mendengar panggilan shalat yang diperdengarkan 3 kali di waktu Dzuhur, Ashar, dan Maghrib ini, sontak setiap orang menghentikan kegiatannya. Kepada Alhikmah, Wakil Ketua Dewan Keluarga Masjid (DKM) Darul Ihsan, Chomsun Farouchi, mengatakan bahwa adzan adalah moment yang ditunggu-tunggu. Selain sebagai pengingat waktu shalat, tambah Chomsun, adzan juga menjadi suatu penyegar saat sedang disibukkan dengan rapat dan pekerjaan. “Dengan diberikannya peringatan akan datangnya shalat, pelaksanaan ibadah pun menjadi tertib dan teratur, dan dapat dilakukan dengan nyaman. Karena dilakukan serentak, maka berpengaruh terhadap efektifitas waktu kerja. Waktu yang terbuang menjadi sedikit, dan waktu shalat juga menjadi terkontrol,“ terang Chomsun. Aktivitas tersebut tidak semata diperuntukkan bagi para pegawai TELKOM, tapi juga terbuka bagi warga sekitar, bahkan para pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar gedung TELKOM pun kerap menggunakan masjid yang sempat empat kali mengalami renovasi ini untuk beribadah. Alasannya sederhana, karena keberadaan masjid Darul Ihsan adalah milik semua umat, yang ditujukan tidak hanya untuk menebar manfaat di lingkungan sendiri, tapi juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar. Amin. MIA GAMALIA/ALHIKMAH Comments |